Metro View | Minggu, 20 Mei 2012 16:49 WIB
SERATUS empat tahun yang lalu, tokoh pergerakan nasional seperti Dr Soetomo, dr Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara tidak pernah tahu secara pasti kapan Indonesia akan merdeka. Namun mereka tahu bahwa pintu gerbang kemerdekaan pasti akan tiba. Yang harus terus dilakukan adalah bagaimana terus menggelorakan semangat kemerdekaan. Itulah yang membuat mereka kemudian mendirikan Boedi Oetomo.
Hanya dengan keyakinan yang kuat akan bangkitnya Indonesia, maka cita-cita besar itu akan bisa diraih. "We are what we think we are," kata pepatah Inggris. Apa yang kita pikirkan, maka itulah yang kelak akan terjadi.
Tiga puluh tujuh tahun setelah digulirkannya pergerakan "Boedi Oetomo", tercapailah sebuah Indonesia Merdeka. Apa yang menjadi cita-cita para tokoh bangsa itu, terjadi ketika Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Sekarang cita-cita yang ingin kita capai tentu bukan lagi merdeka. Harapan yang harus kita terus gelorakan adalah membawa kebangkitan Indonesia untuk tidak kalah dari bangsa-bangsa lain dan sekaligus memberikan kehidupan yang lebih baik kepada seluruh rakyat Indonesia.
Kita memiliki kemampuan untuk bisa menyejahterakan seluruh rakyat. Yang dibutuhkan adalah kepedulian bahwa kita harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada di antara kita yang serakah dan mau hidup berkelimpahan sendiri saja.
Kepedulian nasional itulah yang dirasakan kurang sekarang ini. Lunturnya semangat nasionalisme membuat kita tidak lagi merasa sebagai sebuah bangsa. Egoisme yang begitu kuat membuat kita selalu ingin menang sendiri.
Pada peringatan "Hari Kebangkitan Nasional" tanggal 20 Mei ini, kita harus gelorakan kembali rasa kebersamaan kita sebagai bangsa. Secara bersamaan kita gelorakan kebangkitan dari seluruh rakyat untuk mencapai masa depan bersama yang lebih baik.
Seluruh bangsa di dunia selalu menggunakan momentum hari nasional untuk membangkitkan rasa kebersamaan. Pada kesempatan itu, kita meneguhkan kembali sebagai sebuah bangsa yang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.
Selama ini kita selalu menganggap enteng peringatan hari nasional. Kita tidak pernah menggunakan momentum itu untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan membangun kepedulian nasional. Seakan kegiatan itu dianggap membuang-buang waktu dan sudah ketinggalan zaman.
Padahal karena kesibukan sehari-hari, kita sering menjadi lengah. Kita lupa bahwa kita hidup sebagai sebuah bangsa. Kita lupa bahwa ada di antara saudara kita yang tertinggal. Ketika kita melupakan mereka, maka mereka akan semakin jauh tertinggal dan akhirnya menjadi beban bagi bangsa.
Apalagi kita sedang hidup di dunia yang semakin terbuka. Persaingan di antara bangsa-bangsa di dunia tidak bisa lagi dihindarkan. Hanya mereka yang paling siap, yang akan mampu bertahan dan meraih kemajuan.
Sebagai perbandingan, tanggal 19 Mei kemarin di Turki diperingati Hari Pemuda. Itulah hari yang dianggap sebagai awal kebangkitan bangsa Turki untuk meraih kemerdekaan nasional mereka.
Kemarin siang di Kota Antalya, di bagian selatan Turki, hujan turun. Namun masyarakat di Antalya bergeming. Di tengah hujan yang turun mereka tetap berkumpul di tengah kota. Sambil mengibar-ngibarkan bendera Turki, mereka memperingati Hari Pemuda dengan penuh antusias.
Peringatan Hari Pemuda tidak harus dilakukan dengan upacara resmi. Cukup dengan mendirikan sebuah panggung untuk tim musik orkestra. Mereka mendengarkan lagu-lagu nasional. Ketika lagu kebangsaan Turki diperdengarkan, semua orang berdiri hikmat dan dengan lantang ikut menyanyikannya.
Tidak hanya melakukan upacara seremonial, masyarakat Turki juga membangun kepedulian nasional. Seperti dilakukan pengusaha furnitur, Saylim Yuva, ia menyisihkan uang setiap bulan untuk membantu pendidikan warga yang tidak mampu.
Saylim mengatakan bahwa tidak ada kewajiban dari negara kepada warganya untuk melakukan itu. Namun ia dan beberapa rekan pengusaha melakukan hal itu, karena menyadari pentingnya pendidikan bagi warga Turki. Tanggung jawab untuk mengangkat mereka yang tertinggal bukan sekadar menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab dari warga yang sudah hidup berkecukupan.
Pemilik perusahaan furnitur Istiqbal itu tidak bisa melupakan bahwa ia dulu pernah hidup berkekurangan dan bisa mengecap bangku kuliah karena dibantu pengusaha yang peduli. Kini ketika ia sudah hidup berkecukupan, sepantasnya jika ia juga peduli kepada pendidikan dari mereka yang berkekurangan.
Menurut Saylim, setiap zaman pasti menghadapi tantangan yang berbeda. Salah satu bentuk rasa nasionalisme yang bisa dilakukan warga adalah dengan terus menghidupkan rasa kepedulian kepada sesama anak bangsa.
Pelajaran sederhana yang disampaikan Saylim pantas membuat kita merenungi peringatan Hari Kebangkitan Nasional, hari ini. Kita membutuhkan hadirnya kepedulian nasional, karena masih banyak warga bangsa kita yang hidup berkekurangan. Kita tidak boleh membiarkan warga yang tidak mengecap pendidikan.
Dengan memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa terus mengikuti pendidikan, maka kita membuka peluang bagi banyak orang untuk keluar dari kemiskinan. Pendidikan telah terbukti mampu mengangkat banyak orang dari kemiskinan. Kita memiliki banyak warga yang bisa memberikan pendidikan kepada sesama. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian untuk melakukan itu sebagai bagian dari sumbangsih kita kepada bangsa dan negara.
Hanya dengan keyakinan yang kuat akan bangkitnya Indonesia, maka cita-cita besar itu akan bisa diraih. "We are what we think we are," kata pepatah Inggris. Apa yang kita pikirkan, maka itulah yang kelak akan terjadi.
Tiga puluh tujuh tahun setelah digulirkannya pergerakan "Boedi Oetomo", tercapailah sebuah Indonesia Merdeka. Apa yang menjadi cita-cita para tokoh bangsa itu, terjadi ketika Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Sekarang cita-cita yang ingin kita capai tentu bukan lagi merdeka. Harapan yang harus kita terus gelorakan adalah membawa kebangkitan Indonesia untuk tidak kalah dari bangsa-bangsa lain dan sekaligus memberikan kehidupan yang lebih baik kepada seluruh rakyat Indonesia.
Kita memiliki kemampuan untuk bisa menyejahterakan seluruh rakyat. Yang dibutuhkan adalah kepedulian bahwa kita harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada di antara kita yang serakah dan mau hidup berkelimpahan sendiri saja.
Kepedulian nasional itulah yang dirasakan kurang sekarang ini. Lunturnya semangat nasionalisme membuat kita tidak lagi merasa sebagai sebuah bangsa. Egoisme yang begitu kuat membuat kita selalu ingin menang sendiri.
Pada peringatan "Hari Kebangkitan Nasional" tanggal 20 Mei ini, kita harus gelorakan kembali rasa kebersamaan kita sebagai bangsa. Secara bersamaan kita gelorakan kebangkitan dari seluruh rakyat untuk mencapai masa depan bersama yang lebih baik.
Seluruh bangsa di dunia selalu menggunakan momentum hari nasional untuk membangkitkan rasa kebersamaan. Pada kesempatan itu, kita meneguhkan kembali sebagai sebuah bangsa yang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.
Selama ini kita selalu menganggap enteng peringatan hari nasional. Kita tidak pernah menggunakan momentum itu untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan membangun kepedulian nasional. Seakan kegiatan itu dianggap membuang-buang waktu dan sudah ketinggalan zaman.
Padahal karena kesibukan sehari-hari, kita sering menjadi lengah. Kita lupa bahwa kita hidup sebagai sebuah bangsa. Kita lupa bahwa ada di antara saudara kita yang tertinggal. Ketika kita melupakan mereka, maka mereka akan semakin jauh tertinggal dan akhirnya menjadi beban bagi bangsa.
Apalagi kita sedang hidup di dunia yang semakin terbuka. Persaingan di antara bangsa-bangsa di dunia tidak bisa lagi dihindarkan. Hanya mereka yang paling siap, yang akan mampu bertahan dan meraih kemajuan.
Sebagai perbandingan, tanggal 19 Mei kemarin di Turki diperingati Hari Pemuda. Itulah hari yang dianggap sebagai awal kebangkitan bangsa Turki untuk meraih kemerdekaan nasional mereka.
Kemarin siang di Kota Antalya, di bagian selatan Turki, hujan turun. Namun masyarakat di Antalya bergeming. Di tengah hujan yang turun mereka tetap berkumpul di tengah kota. Sambil mengibar-ngibarkan bendera Turki, mereka memperingati Hari Pemuda dengan penuh antusias.
Peringatan Hari Pemuda tidak harus dilakukan dengan upacara resmi. Cukup dengan mendirikan sebuah panggung untuk tim musik orkestra. Mereka mendengarkan lagu-lagu nasional. Ketika lagu kebangsaan Turki diperdengarkan, semua orang berdiri hikmat dan dengan lantang ikut menyanyikannya.
Tidak hanya melakukan upacara seremonial, masyarakat Turki juga membangun kepedulian nasional. Seperti dilakukan pengusaha furnitur, Saylim Yuva, ia menyisihkan uang setiap bulan untuk membantu pendidikan warga yang tidak mampu.
Saylim mengatakan bahwa tidak ada kewajiban dari negara kepada warganya untuk melakukan itu. Namun ia dan beberapa rekan pengusaha melakukan hal itu, karena menyadari pentingnya pendidikan bagi warga Turki. Tanggung jawab untuk mengangkat mereka yang tertinggal bukan sekadar menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab dari warga yang sudah hidup berkecukupan.
Pemilik perusahaan furnitur Istiqbal itu tidak bisa melupakan bahwa ia dulu pernah hidup berkekurangan dan bisa mengecap bangku kuliah karena dibantu pengusaha yang peduli. Kini ketika ia sudah hidup berkecukupan, sepantasnya jika ia juga peduli kepada pendidikan dari mereka yang berkekurangan.
Menurut Saylim, setiap zaman pasti menghadapi tantangan yang berbeda. Salah satu bentuk rasa nasionalisme yang bisa dilakukan warga adalah dengan terus menghidupkan rasa kepedulian kepada sesama anak bangsa.
Pelajaran sederhana yang disampaikan Saylim pantas membuat kita merenungi peringatan Hari Kebangkitan Nasional, hari ini. Kita membutuhkan hadirnya kepedulian nasional, karena masih banyak warga bangsa kita yang hidup berkekurangan. Kita tidak boleh membiarkan warga yang tidak mengecap pendidikan.
Dengan memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa terus mengikuti pendidikan, maka kita membuka peluang bagi banyak orang untuk keluar dari kemiskinan. Pendidikan telah terbukti mampu mengangkat banyak orang dari kemiskinan. Kita memiliki banyak warga yang bisa memberikan pendidikan kepada sesama. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian untuk melakukan itu sebagai bagian dari sumbangsih kita kepada bangsa dan negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar